Berita Terkini :
Selamat Datang di Situs Informasi Online Kebumen .:: www.bumen-news.blogspot.com ::.

Makam Keramat Mbah Lancing Kebumen

Minggu, 14 Oktober 2012

 Makam Keramat Mbah Lancing Kebumen




Makam Mhah Lancinga di desa Tlogo di daerah Kebumen, Jawa Tengah. Makam itu sudah cukup tua, pagarnya dari batu bata tebal, khas bangunan kuno. Sudah sekitar dua dekade saya tidak ke sana, dan ketika kemarin sampai depan kompleks makam, tampaknya makam itu sudah dipugar, dan ada papan baru bertuliskan “benda cagar budaya”. Wah, makam mbah Lancing sudah jadi benda cagar budaya.
makam mbah lancing yang ditutup sineb (kain jarik)
Makam Mbah Lancing ditutup sineb atau kain batik yang disebut batik Mbah Lancing yang motifnya khusus dan tidak sembarang orang boleh membuat batik itu.
Mbah Lancing adalah keturunan Brawijaya V, raja terakhir Majapahit. Ceritanya begini:
Brawijaya V punya banyak istri dan anak, ada yang bilang anaknya ada 100. Dari istri yang bernama Dewi Dilah lahirlah Ario Damar (kelak jadi adipati Palembang). Dari istri yang berasal dari negeri Champa (1) lahirlah raden Hasan alias raden Fattah (kelak jadi sultan Demak). Tapi ketika raden Fattah masih dalam kandungan, putri Champa dihadiahkan kepada Ario Damar, adipati Palembang, untuk dijadikan istrinya. Dari perkawinan Ario Damar dengan putri Champa lahirlah raden Husein (kelak jadi adipati Terung).
Raden Fattah alias raden Hasan dibesarkan bersama raden Husein di Palembang dalam lingkungan beragama Islam. Setelah dewasa keduanya pergi ke ibukota Majapahit menghadap sang raja. Raden Fattah kemudian diberi tanah di Bintoro, yang kemudian menjadi kesultanan Demak Bintoro, dan raden Husein dijadikan adipati Terung (2), dikenal dengan nama Ario Timbal. Mbah Lancing adalah keturunan Brawijaya V melalui jalur: Ario Damar, Ario Timbal, raden Carangnolo, Tumenggung Wonoyudo (Wongsojoyo I), Kiai Ketijoyo, Mbah Lancing.
Mbah Lancing adalah seorang ulama yang bernama asli Kiai Sirad, ada juga yang menyebutnya Kiai Bayi. Kiai Sirad dinamakan Mbah Lancing karena suka memakai kain batik. Masyarakat setempat menyebut kain batik sebagai lancing. Karena itu, sebagai penghormatan kepada Mbah Lancing makamnya ditutupi sineb atau kain batik alias lancing yang khusus dibuat dengan motif seperti yang disukai Mbah Lancing semasa hidup.
Kain batik ini disebut batik Mbah Lancing yang hanya ada di sini, dibuat dari kain mori dan diberi warna biru ditambah variasi di bagian tepinya berupa tumpal berbentuk mancungan-mancungan berwarna coklat dan hitam. Ada juga batik yang bermotif bunga dan daun diberi latar motif gringsing. Karena kain batik ini dinilai sakral, maka hanya orang tertentu yang boleh membuatnya, yaitu seorang wanita yang sudah ”suci” alias sudah menopause, dan masih keturunan Mbah Lancing. Dan sebelum membatik harus berwudhu dahulu. Saat ini hanya ada satu orang yang memenuhi syarat itu, dan usianya sudah di atas 60 tahun.
Kembali ke keturunan brawijaya V. Generasi selanjutnya ada yang kawin dengan cucu Mangkunegoro I, ada yang kawin dengan anaknya Arung Binang. Generasi berikutnya juga banyak yang jadi kiai. Generasi sekarang keturunan ini sebagian masih di Kebumen, selebihnya tersebar.
Kedatangan keturunan Brawijaya V di daerah Kebumen itu diduga masih ada kaitan dengan penyebaran Islam di daerah Kebumen. Pada waktu itu raden Fattah, sultan Demak, mengirim muballigh dari Hadramaut bernama Syaikh Abdul Kahfi Awwal untuk berdakwah di daerah itu. Pondok pesantren peninggalannya sampai saat ini masih ada, dikenal sebagai pondok pesantren Somalangu, atau pondok pesantren Al Kahfi.
Share this Article on :

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

© Copyright .::Seputar Kebumen::. 2010 -2012 | Design by Portal Berita Daerah Ngapak
Alamat: Buluspesantren, Kab. Kebumen, Jawa Tegah, Indonesia
Facebook: Ahmad Nurohman
Email: nurohman5sari@gmail.com